Entri Populer

Kamis, 14 Februari 2013

TANTANGAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN




TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN


TUGAS KULIAH


                     MATA KULIAH   :  FILSAFAT ILMU
                     DOSEN                    : DR. PATAHUDDIN, M.Pd
 

                     KELOMPOK VI :  1. NUR  AISAH (12B12032)
                                                     2. RAHMA ILMIATI (12B12050)
                                                     3. ABDUL RAHMAN (12B12025)
                                                     4. ALIMUDDIN (12B12052)
                                        
 
PRODI PEP KEPENGAWASAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012
TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN
A.      Tantangan–Tantangan Yang Dihadapi Oleh Masyarakat Masa Depan
1.  Pendidikan Global
Pendidikan Perspektif Global atau disebut juga pendidikan global artinya pendidikan yang membekali wawasan global untuk membekali siswa memasuki era globalisasi sehingga siswa mampu bertindak lokal dengan dilandasi wawasan global. Pendidikan global dengan penerapan metode pembelajaran  global saat ini diadopsi oleh negara-negara maju atau negara-negara yang peringkat Human Development Index (HDI)-nya masih di atas Indonesia, namun penerapannya belum terjadi di Indonesia. Isu global pendidikan juga terkait dengan wacana integrasi ilmu pengetahuan. Disiplin ilmu agama, IPA, matematika, IPS, sastra dan disiplin ilmu lainnya tidak akan lagi berdiri sendiri, terpisah secara sporadis, namun akan menjadi suatu kesatuan ilmu yang melahirkan produk ilmu pengetahuan yang merupakan hasil integrasi dari berbagai disiplin ilmu.
2.      Perubahan Global
          Pada tahun tahun 1989 The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menerbitkan hasil simposium yang diadakan di Paris dalam bentuk buku yang diberi judul One World or Several. Dalam buku tersebut menyebutkan tujuh masalah besar yang dihadapi manusia masa depan. Ketujuh masalah itu ialah (1) reactivasi dunia secara menyeluruh, (2) globalisasi versus regionalisasi, (3) pengembangan sumber daya menusia dan pengelolaan pemerintah, (4) development contract, (5) perlu didirikan regiun energi internasional menghadapi perubahan lingkungan yang semakin destruktif, (6) migrasi internasional, (7) memikirkan kembali nasib buruh-buruh negara agraris (Amin Rais dalam Tuhuleley,1993). Sedangkan negara-negara miskin dihadapkan dengan 3 jenis “buldoser” yang dapat melindas habis negara-negara agraris, yakni (1) revolusi bioteknologi, (2) berbagai imperative ekonomi yang merugikan petani, (3) kerusakan lingkungan yang semakin parah.
 
3.   Kesenjangan Kemajuan IPTEK, Prestasi Pendidikan, dan HDI
Khususnya di Indonesia, menurut anwar et al (1990) tantangan yang dihadapi untuk penerapan dan pengembangan IPTEK pada PJPT II adalah (1) jumlah terbesar penduduk usia 10 tahun ke atas dan angkatan kerja yang tidak tamat SD sebesar 44,9%dari jumlah angkatan kerja sebanyak 74,6 juta, dan lulusan perguruan tinggi 1,61%, itupun lulusan eksakta ±28,9% dan sisanya lulusan ilmu sosial., (2) bagian terbesar unit usaha berskala kecil dan non formal, (3) peningkatan pengangguran terbuka angkatan kerja lulusan SLTP dan yang lebih tinggi, (4) pendidikan menengah dan tinggi relatif rendah , (5) kurangnya tenaga ristek, (6) rendahnya kesehatan relatif terhadap negara ASEAN, (7) industri manufaktur mengarah industri berat, (8) urbanisasi meningkat, (9) Pemasukan dana luar negara berkurang teknologi meluas dan mendalam (Anwar et al, 1990 dalam Iskandar, 1991).
Ketertinggalan sekolah tidak hanya terkait dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah namun juga terkait dengan ketertinggalan akses infromasi seputar perkembangan saintek (sains dan teknologi). Ketertinggalan akses ini secara fundamental disebabkan oleh dua hal, pertama penguasaan operasional guru terhadap perangkat teknologi informasi, kedua karena belum semua sekolah mampu memenuhi ketersediaan perangkat teknologi informasi yang mampu memberikan akses informasi global yang memadai, semisal jaringan internet. Hal ini pun disebabkan oleh faktor fundamental lainnya yaitu kualitas SDM dan ketersediaan finansial.
Ketertinggalan kita terjadi pada aspek-aspek yang fundamental. Skill membaca tidak diragukan lagi sebagai skill yang sangat penting, dari data terlihat  bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan ‘memaksa diri’ untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Begitupun  kemampuan problem solving, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset, karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuan-penemuan baru yang datang dari dunia pendidikan.

4. Perubahan tata kehidupan

           Akselerasi perubahan masyarakat yang begitu cepat di masa depan, menimbulkan tata kehidupan manusia. Alvin Toffler (1970) menyebutkan tata kehidupan manusia masa depan itu mencakup (1) masyarakat yang serba membuang, (2) kaum nomad baru, (3) insan modular (Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah ,1987).

5. Kependudukan Dan Ketenagakerjaaan
         Pertambahan penduduk, merupakan tantangan bagi masyarakat masa depan. Di negara-negara industri maju, pertambahan penduduk 1% bahkan beberpa negara mendekati 0%, sehingga tahun 2025 jumlah penduduk di negara ini sekitar 1,4 milyar. Sedang di negara-negara berkembang pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 6,8 milyar. (Brundland,1987 dalam Sumantri, 1988). Sementara itu di Indonesia pada tahun 2020 jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa dan tahun 2050 menjapai 350 juta jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini sekitar 1,8% pertahun. Akibat pertumbuhan penduduk ini dapat memunculkan masalah-masalah sosial, misalnya pengangguran.
                  Sedangkan khusus pada dunia pendidikan di Indonesia saat ini dan mendatang, terdapat beberapa tantangan yaitu:
1.      Perubahan Lingkungan hidup
            Masyarakat masa depan akan dihadapkan pada masalah lingkungan hidup. Beberapa perubahan lingkungan di masa depan meliputi (1) bertambahnya jumlah penduduk di bumi, (2) krisis air bersih untuk keperluan penduduk dan industri, (3) makin  luasnya tanah krisis, (4) berkurangnya luas hutan, (5) musnahnya berbagai plasma nutfah di darat dan di air karena ekosistem, (6) rusaknya berbagi ekosistem di laut akibat pengurasan hasil laut pencemaran di sungai. (7) makin luasnya padang pasir, (8) meningkatnya suhu bumi akibatefek rumah kaca. (9) makin meningkatnya hujan asam, (10) jurang ekonomi antara negara miskin dan negara maju makin lebar. (Kastama,1991)

2.      Degradasi Moral
          Tekanan-tekanan sosial akibat berbagai ketimpangan sosial dapat menimbulkan  tingkah laku menyimpang dalam masyarakat.
            Di Jepang kemajuan ekonomi akibat industrialisasi , harus di bayar mahal berupa guncangan sosial budaya. Bunuh diri di kalangan remaja menempati angka tertinggi di dunia. (Saefuddin, 1993)
 Demikian pula di Indonesia akibat globalisasi informasi, tata nilai dasar diterjang begitu saja oleh budaya asing, sehingga melahirkan perilaku baru dikalangan generasi muda.
3.      Sains dan Teknologi
            Meskipun abad ini merupakan abad sains dan teknologi, akan tetapi negara-negara berkembang keadaanya jauh di belakang negara-negara maju.                       Dalam hal penguasaan sains dan teknologi, negara-negara berkembang masih mendapatkan masalah. Abdus Salam pemenang hadiah nobel dari fisika tahun 1978 yang berasal dari Pakistan mengemukakan ada 4 faktor yang menjerat negara berkembang sehingga mereka tidak dewasa dalam bidang sains untuk teknologi mutakhir, adalah : (1) banyak negara berkembang tidak mempunyai komitmen terhadap sains baik terapan apalagi yang murni, (2) tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan kemandirian, (3) tidak mendirikan kerangka institusional  dan legal yang cukup mendukung manajemen kegiatan bidang sains (Baiquni,1990)
           Untuk dapat mengembangkan teknologi modern, diperlukan persiapan pendukungnya yakni penguasaan sains dan Bio-molekuler, biokimia dan mikrobiologi untuk mendukung bioteknolgi dan rekayasa genetik. Penguasaan dalam bidang  fisika zat mampat , fisika semi konduktor dan superkonduktor, fotonika, yang menjadi dasar pengembangan teknologi material baru dan mikro elektronika   ( Baiquni, 1990)
4.      Pendidikan Nasional
             Tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak yang terkait adalah memgendalikan terjadinya putus sekolah. Angka putus sekolah di SD secara komulatif mencapai 20%, tingkat mengulang kelas 9,5% setiap tahun. Ditingkat SLTP angka putus sekolah ditingkat SLTA mencapai 3,5%dan di perguruan tinggi mencapai 9,1%
            Untuk memcapai masyarakat industri maju yang bertumpu pada penguasaan teknologi tinggi Indonesia masih menghadapi tantangan Sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia yang diprioritaskan untuk mendukung pelaksanaan teknologi adalah yang menguasai Basic Science. (Koswara,1991).
B.     Antisipasi – Antisipasi Yang Diperlukan Bagi Masyarakat Masa Depan
1.      Pendidikan Global
Pendidikan Global dirasa perlu disebabkan kemajuan komunikasi & transportasi yang dirasakan dunia semakin sempit, batas negara menjadi buram, proses universalisasi melanda berbagai aspek kehidupan. Pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan global dalam aspek ekonomi, seni budaya, SDM, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain ke dalam kurikulum sekolah yang akhirnya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk persaingan global.
Tujuan Pendidikan Global adalah :
a.  Mengembangkan pengertian keberadaan mereka membentuk masyarakat.
b. Memberi pengertian mereka yang merupakan anggota masyarakat manusia.
c. Menyadarkan mereka adalah penghuni planet bumi, dan kehidupannya tergantung pada planet bumi tersebut.
d. Mereka adalah partisipan atau pelaku aktif dalam masyarakat global.
e. Mendidik siswa agar mampu hidup secara bijaksana dan bertanggung jawab, sebagai individu, umat manusia, penghuni planet bumi, dan sebagai anggota masyarakat global.
Pendidikan Global menekankan pada:
a. Kesadaran terhadap perspektif global.
b. Memahami sistem-sistem global.
c. Sejarah globalisasi.
d. Saling pengertian terhadap budaya bangsa lain.
Contoh Pendidikan Global:
Para siswa di Bangladesh bertukar wawancara dalam video dengan siswa di Georgia. Siswa SMA di Illinois belajar bahasa Jepang, Latin, Perancis, dan Jerman dengan menggunakan diskusi online bersama para siswa dari negara-negara lain.
Siswa-siswi dari seluruh dunia mengadakan penelitian mengenai spesies binatang yang hampir punah dari daerah masing-masing, dan berbagi informasi tersebut dengan menerbitkannya di situs web bersama. Terhubung secara global melalui kemajuan teknologi Internet.
2.      Pendidik yang berkarakter kuat dan cerdas
Pendidik yang kuat adalah pendidik yang berkarakter yaitu di samping fisik yang kuat, pendidik harus memiliki kepribadian yang utuh, matang, dewasa, berwibawa, berbudi pekerti luhur, bermoral baik, penuh tanggung jawab dan memiliki jiwa keteladanan, dan memiliki keteguhan atau ketetapan hati untuk berjuang membangun dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia seutuhnya melalui tugas-tugas yang diembannya dan tidak mudah terpengaruh pada upaya-upaya atau kondisi yang dapat mengakibatkan mereka ke luar (out of track) dari “jalan dan perjuangan yang benar”. Sedangkan pendidik yang cerdas berarti memiliki kemampuan untuk melakukan terobosan dan pemikiran yang mampu menyelesaikan masalah dan melakukan pengembangan-pengembangan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan membangun manusia seutuhnya baik dari segi intelektual maupun moral.
3.      Peran guru dalam pembelajaran
Guru memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik siswa dalam proses pembelajaran terutama sebagai agent of change melalui proses pembelajaran (Davies dan Ellison, 1992). Peran guru tidak akan tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai teachers’ companion (sahabat – mitra guru).
 
4.      Upaya peningkatan mutu guru
Dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, pendidik merupakan pemegang peran yang amat sentral. Guru adalah jantungnya pendidikan. Tanpa denyut dan peran aktif guru, kebijakan pembaruan pendidikan secanggih apa pun tetap akan sia-sia. Sebagus apa pun dan semodern apa pun sebuah kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru yang berkualitas, tidak akan membuahkan hasil optimal. Artinya, pendidikan yang baik dan unggul tetap akan tergantung pada kondisi mutu guru. Beberapa upaya untuk meningkatkan mutu guru yaitu sertifikasi guru, peningkatan mutu dan profesionalisme guru, adanya asosiasi profesi, dan upaya-upaya lain seperti peberian beasiswa, pemberian penghargaan, dan peningkatan kesejahteraan.
5.      Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
Menghadapi masyarakat masa depan yang bercirikan perubahan dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas manusia yang dibutuhkan memiliki 3 ciri utama, ialah (1) manusia yang sadar IPTEK, (2) Kreatif, (3) solidaritas-etis (Oetomo,1990).
Pertama manusia yang sadar IPTEK adalah well informed, tahu banyak pengetahuan. Mampu mencerna informasi, dan mengolah dan menganalisis informasi untuk diri dan masyarakatnya. Mampu mendayagunakan IPTEK, bahkan daapt memukan inovasi untuk menciptakan perubahan dan mengendalikannya.
Kedua, manusia kreatif adalah manusia yang tidak terbawa oleh arus perubahan. Manusia kreatif mampu menciptakan perubahan, memiliki kemampuan yang kompetitif. Manusia kreatif, manusia yang inteligent, memiliki minat yang tinggi, imaginer, fleksibel, dan sensitif. Memiliki daya ingat yang tinggi dan dapat berpikir secara evaluatif . Dilihat dari sisi minat dan motivasinya, manusia kreatif mempunyai ciri selalu ingin tahu, gemar bermain ide, suka menghadapi tantangan..
Ketiga, manusia yang memiliki solidaritas-etis. Kompetitif merupakan ciri globalisasi, oleh karena itu manusia masa depan perlu memiliki solidaritas sosial. Memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Keunggulan kompetitif harus dilandasi oleh dan bermuara pada rasa tanggungjawab sosial.
Tantangan terberat dalam globalisasi tidak lain adalah mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang merupakan identitas sebagai bangsa. Di dalam diri manusia dituntut untuk berwawasan internasional. Namun di pihak lain, dituntut agar tetap berpijak pada jati diri sebagai bangsa yang mandiri. Oleh karena itu, manusia akan berada pada posisi tarik-menarik dua kebudayaan yakni kebudayaan internasional versus kebudayaan nasional.
Menghadapi derasnya kebudayaan asing (Barat) sering identik dengan nilai materialistik. Fromn (1956) melihat kehancuran tata kehidupan manusia terlalu menekankan aspek materi dan melupakan ajaran agama adalah pangkal kehancuran umat manusia. (Jacob, dalam Effendi,1992).
Hal lain yang merupakan bentuk antisipatif adalah memadukan agama dan ilmu dalam beberapa hal yang berbeda.  Agama yang lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru. Tidak perlu terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati, sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia. Agama mendorong umatnya untuk menuntut ilmu.  Hampir semua kitab suci menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mungkin.
            Disini ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lebih abadi kalo visi ini yang diyakini oleh para ilmuwan dan agamawan maka harapan kehidupan ke depan akan lebih cerah dan sentosa tentu saja pemikiran-pemikiran seperti ini perlu dukungan dari berbagai pihak untuk terwujudnya masa depan yang lebih cerah.
C. Masa Depan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Selama abad kedua puluh, ilmu pengetahuan telah meloncat kedepan. Faktor yang berpengaruh atas keadaan ini karena menurut dugaan 90 % ahli ilmu pengetahuan dan penemuan – penemuan dalam sejarah umat manusia hidup pada zaman ini. Riset dan pembaharuan dilembagakan, demikian pula modal orang yang bekerja di bidang IPTEK, merupakan faktor pendukung lonjakan perkembangan IPTEK (Faure, 1972).
Hal yang menarik disamping kuantitas penemuan dan intensitasnya adalah jarak antara penemuan prinsip – prinsip ilmiah dengan aplikasi dan penyebaraannya semakin pendek. Sebagai contoh pada tahun 1727 ditemukan prinsip – prinsip dasar pemotretan. Kurang lebih 112 tahun jarak antara penemuan prinsip ilmiah dengan aplikasinya. Sementara hatere solar prinsip ilmiahnya ditemukan tahun 1953, aplikasinya tahun 1955, sehingga hanya membutuhkan waktu 2 tahun.
Para peneliti  masa depan telah mencoba menginventarisasi perkembangan IPTEK masa depan. Menurutnya IPTEK masa depan, (1) perkembangan energi fisika tinggi, inovasi dan aplikasi lanjut cahaya laser, (2) pemurnian terus – menerus pada bidang sibernetika – bidang proses kontrol sistem – sistem mekanik, biologi dan elektronik, (3) perubahan penting dalam kualitas dan penggunaan media massa, (4) sukses besar dalam manipulasi ringan dan restorasi lingkungan, (5) peningkaatan pemakaian komputer, (6) memperkenalkan super – konduktor, dan (7) kerja sama internasional dalam perdagangan dan tukar menukar teknologi (Shane, 1973 dalam Kusuma, 1982).
Berbagai bidang IPTEK akan maju terus. Perlembagaan elektronika akan berkembang kearah psikoelektronika dan bio elektronik. Robot – robot akan menggantikan tenaga manusia, sehingga menju kearah pabrik tanpa buruh. Bioteknologi, geno teknologi dan ekoteknologi akan memegang peranan penting dalam masyarakat masa depan.
Dalam bidang transformasi, selama berabad – abad manusia mengadakan pejalanan dengan jalan kaki. Sekitar 6000 tahun sebelum Masehi angkutan yang paling cepat adalah unta dengan kecepatan 8 mil perjam, tahun 1600 SM dengan kereta kuda meningkat 20 mil perjam, lokomotif ditemukan tahun 1925 baru mencapai kecepatan 13 mil perjam. Sementara tahun 1938 manusia mengudara dengan kecepatan 400 mil perjam dan tahun 1960 dengan roket, kecepatan mencapai 4800 mil perjam. Dan kini astronot mengedari bumi dengan kecepatan 18.000 mil perjam atau 40. 000 km perjam (Faure, 1972 ; Toffler,, 1970).
Revolusi teknologi komunikasi membuat jarak bukan merupakan hambatan bagi manusia dalam berkomunikasi. Sejak digunakannnya burung merpati sebagai alat komunikasi dapat menerobos hambatan, jarak, lebih – lebih setelah ditemukan telpon tahun 1820. jarak sama sekali bukan masalah lagi.
Akhir – akhir ini produk telkom yang mutakhir mulai dikenalkan. Telkom high-tech yang diberi nama VSAT (very small aperture terminal) mampu mengirim dan menerima data, faks dan suara dalam sekejab beserta gambarnya. Sistem VSAT ini mampu mengatasi hambatan komunikasi akibat lalu lintas kkomunikasi yang padat (Jawa Post . 3 Mei 1995)
Sejalan dengan perkembangan komunikasi adalah perkembanan teknologi informasi. Radio ditemukan tahun 1867. tiga puluh lima tahun kemudian yakni tahun 1902 mulai dipasarkan. Sejak itu, penyampaian informasi dapat menjangkau publik yang berlipat ganda, penemuan transistor tahun 1948, kemudian diproduksi tahun 1951 mampu mengefisiensikan produksi radio, akibatnya radio diproduksi dalam jumlah yang besar dengan harga dalam jangkauan masyarakat umum.
Teknologi elektronika yang kini penggunaannya merambah dalam berbagai bidang adalah teknologi komputer. Ketelitian dan kecermatan melebihi manusia, ia dapat dipekerjakan di bidang kedokteran, dalam bidang rancang bangun dan rekayasa, bahkan dapat menggantikan guru dalam membelajarkan anak.

D. Menjawab Tantangan dan Menatap Masa Depan Ilmu
Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita raja midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginan dikabulkan dia tidak semakin senang tetapi justru menjadi sebaliknya.
John Naissbitt mengatakan bahwa, era informasi menimbulkan gejala mabuk teknologi, yang ditandai dengan beberapa Indikator, yaitu; 1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat; 2) masyarakat takut dan memuja teknologi; 3) masyarakat mengaburkan antara yang nyata dan yang semu; 4) masyarakat menerima kekerasan sebuah hal yang wajar; 5) masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan; 6) masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.
Naisbitt ingin mengingatkan bahwa, ketika manusia mulai memuja dan menjadikan teknologi sebuah patron tunggal dalam menjalani kehidupan, maka yang sebenarnya terjadi adalah ilmu itu telah kehilangan ruh fundamentalnya, karena Ilmu telah mengeliminir peran manusia dan menjadikan manusia sebagai budaknya.
Dengan demikian, Ilmu memerlukan sebuah instrument agar mampu menempatkan ilmu tetap pada tempatnya, dan instrument itu adalah filsafat. filsafat yang kemudian mengembalikan ruh dan tujuan luhur Ilmu, agar Ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan umat manusia. Di samping itu, salah satu tujuan filsafat ilmu adalah mempertegas bahwa Ilmu dan perkembangannya merupakan sebuah instrument, bukan Tujuan. 
            Kemajuan Ilmu seiring perjalanannya, membuat manusia ingin mendapatkan segala apa yang diinginkan. Sehingga, kemajuan ilmu menjadi sebuah komoditas untuk dapat meraih segala keinginanya secara instant.


Beberapa pandangan terhadap perspektif ilmu, yaitu:
1.      Ilmu dalam Perspektif Agama dan Masa Depan Manusia
Agama dan ilmu dalam beberapa hal menunjukan perbedaanya, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) yang cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari hal baru dan tidak perlu terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi batin, karena ada janji kehidupan setelah mati. Sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.
Karena bagi masyarakat beragama, walaupun Ilmu memiliki perbedaan yang konfrehensif, baik dalam fase rohani dan fase kebutuhan jasmani, ilmu adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan, karena manusia hanya menemukanya melalui pendekatan-pendekatan dan disiplin ilmu secara tersistematis, dengan kemudian merekayasanya, dan menjadikanya sebuah instrument penting dalam kehidupan. Karena manusia berbeda dengan ciptaan Tuhan lainya, manusia diberikan daya pikir berbeda dengan makhluk lainya. Daya pikir inilah yang kemudian menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi.
Dalam waktu yang sama, antara manusia, daya pikir dan temuan-temuanya, semua itu harus bertanggung jawab dalam balut transcendental, tanggung jawab pada Penciptanya. Karena, daya pikir tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai ciptaan-Nya. Sehingga, konsekuensi logisnya, manusia tidak hanya bertanggung jawab pada manusia saja, melainkan sebab dan akibat yang ditimbulkan oleh daya pikirnya pun turut serta bertanggungjawab di hadapan Tuhan sebagai Penciptanya.
Akan tetapi, walaupun Agama mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan hampir semua kitab suci menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mungkin, disi lain perlu juga diingat bahwa, ikatan agama yang terlalu kaku dan terstruktur, kadang kala mempersempit laju perkembangan Ilmu. Karena itu, perlu kejelian dan kecerdasan dalam memperhatikan sisi kebebasan dalam ilmu, dan system nilai dalam agama, agar tidak terjadi benturan dan bertolak belakang antara ilmu dan agama.
Penataan laju perkembangan ilmu berdasarkan system nilai agama, kemudian mampu menjadikan Ilmu tetap berjalan, dan nilai agama yang berlaku menjadi control sosial dalam menata laju ilmu dengan memperhatikan Lingkungan sekitar. Dengan demikian, dapatlah sebuah penjagaan terhadap alam, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos yang tidak lepas daripada kehidupan kita.
2. Pendidikan Masa Depan
            Toffler menyebutkan masyarakat masa depan adalah masyarakat super industrial. Untuk menciptakan hal ini perlu ditentukan alternatif yang bermuatan asumsi tentang jenis pekerjaan, profesi yang diperlukan antara 20-50 tahun yang akan datang. Dari sini akan  dirumuskan keterampilan, kognitif, dan afektif yang dibutuhkan untuk menghadapi akselerasi perubahan. (Toffler, 1970, dalam Koesdiyatinah, 1987)
            Untuk mengantisipasi masa depan, Tilaar menyebutkan ada sepuluh kecenderungan pengembangan Sistem Pendidikan Nasional, yaitu :
 (1) pemerataan pendidikan, (2) Kurikulum yang relevan dengan pembangunan nasional, (3) proses belajar mandiri, (4) tenaga pendidikan yang profesional, (5) pendidikan pelatihan yang tetpadu, (6) pendidikan tinggi sebagai partner in progress. (7) pendidikan berkelanjutan, (8) pembiayaan yang memadai, (9) partisipasi masyarakat, (10) manajemen pendidikan yang efektif (Tilaar,1993)
            Naisbit (1990) menekankan pentingnya pendidikan nilai bagi pendidikan masa depan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan masa depan yang ditandai oleh berkembangnya bioteknologi. Kecenderungan di bidang bioteknologi ditandai oleh keberhasilan ilmuwan dalam memecahkan masalah DNA (Deoxyribonucleaid Acid) . Dibidang pertanian dikembangkan varietas Unggul, demikian pula dibidang peternakan. Bagaimana menemukan varietas unggul untuk kehidupan manusia?
            Masa depan merupakan masa yang kompleks bahkan kaum futurolog sudah tidak sanggup lagi meramalkan hari depan. (Soedjatmoko, dalam Utomo, 1990). Kalau demikian halnya, pendidikan masa depan harus mampu mendidik individu untuk dapat menghadapi kekompleks-an masa depan. Tujuan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia  yang dapat mengikuti keadaan masa depan.
            Tujuan pendidikan bukan melahirkan individu yang terpragmentasi dalam bidang-bidang spesialisasi. Melainkan dapat mewujudkan individu yang utuh. Sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional  yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional  mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab masyarakat dan kebangsaan.
            Penerapan prinsip pendidikan seumur hidup akan berimplikasi pada perubahan kurikulum. Menurut Delker, sekolah perlu menawarkan pendidikan inti yang  efektif yang diperlukan untuk belajar seumur hidup. Skager dan dave (1977) menyebutkan kriteria kurikulum sekolah untuk mendukung perkembangan seumur hidup sekolah. Yaitu : (1) kurikulum sekolah harus menganggap bahwa belajar adalah suatu proses yang terus-menerus, (2) kurikulum sekolah harus dipandang dalam konteks, belajar di rumah, masyarakat dan tempat belajar, (3) kurikulum sekolah mengakui interelasi beberapa subjek studi.(4) Kurikulum sekolah harus mengakui sekolah sebagai suatu agen dalam menajikan pendidikan dasar, (5) kurikulum sekolah perlu menekankan otodidak, (6) kurikulum sekolah mengingat kebutuhan individu (Skager dan dave,1977 dalam Cropley).Sementara belajar untuk menghadapi perubahan menurut Biggs (1973) adalah (1) proses untuk memiliki dan mengalokasikan informasi, (2) proses untuk memiliki keterampilan tingkat tinggi menggeneralisasi, (3) proses memiliki strategi umum untuk memecahkan problema, (4) proses menetapkan tujuan belajarnya sendiri, (5) proses mangevaluasi hasil belajarnya sendiri, (6) motivasi yang terat dan (7) proses memiliki konsep yang tepat. (Biggs, 1977 dalam Cropley)

3. Menguasai Teknologi
            Era globalisasi diwarnai oleh persaingan. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai keunggulan kompetitif . Wardiman (1993) menyebutkan untuk mengatasi persaingan, dunia industri harus , (1) menguasai teknologi produksi, untuk mendapatkan kualitas produk yang tinggi, (2) menguasai teknologi produk agar dapat bersaing, (3) menguasai teknologi menajemen untuk mendapatkan harga yang layak,(4) mempunyai tenaga kerja yang terampil dalam proses produksi atau teknologi produk(wardiman,1993)
            Somitro(1981)menyebutkan, mengingat konstelasi masyarakat kita ,dan melihat perkembangan masa depan, ada tiga teknologi yang harus dikembangkan,(1) teknologi maju, (2) teknologi adaptif dan (3) teknologi protektif.Teknologi maju masa depan adalah teknologi produksi exstratif dibidang metalurgy, teknologi imeral dan energi(nuklir).teknologi adaptif, teknologi yang bersumber dari penelitian negara maju yang diolah sesuai dengan kondisi masyarakat kita.teknologi protektif, teknologi perlindungan alam dan lingkungan(sumitro, 1981).
            Selain peningkatan jumlah insinyur dalam pakar pakar dibidang ilmu murni, sujatmoko(1993) manuliskan universitas perlu menggembangkan disiplin ilmiah yang melandasi teknologi, seperti Solid State Physics dan matematika untuk mikro elektronika dan biologi mikro. (Soedjatmoko,1993). Lebih lanjut ia menyebutkan, teknologi yang paling besar dampaknya atas perkembangan masyarakat adalah  bidang bio teknologi, mikro elektronika, informatika dan teknologi bahan (technology  bahan)
            Untuk mengimbangi kejutan masa depan, Toffler menawarkan strategi pemikatnya. Disebutkannya untuk mempertahankan keseimbangan selama terjadinya revolusi super industrial adalah dengan menandingi penemuan baru (Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah,1987).           
4. Mengubah kecenderungan
            Menperhatikan dampak negatif teknologi, untuk mengantisipasi masa depan. Yacob (1993) menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi masa depan , perlu menguasai skenario masa depan yakni dengan mengubah kecenderungan masa depan. Untuk mengubah kecenderungan masa depan yang perlu dilakukan adalah (1) pembatasan pertumbuhan industri negara maju, atau menciptakan pertumbuhan batas dengan teknologi teratas, (2) penemuan baru dalam teknologi, bahkan makanan, material,  peningkatan ekoteknologi untuk mengendalikan pemanasan global dan pencemaran lingkungan, (3) rehumanisasi IPTEK, (4) desentralisasi teknologi dan dualisasi penghidupan, (5) penggantian paradigma dengan mengembangkan nilai  to be dan bukan hanya to have, (6) revitalisasi dan modernisasi pemahaman agama (Yacob,1993 dalam Tuhuleley, 1993)










Letakkan kode iklan yang tadi sudah sobat parse disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar