Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Dasar-Dasar dan Sumber Pengetahuan





Tugas Makalah
DASAR-DASAR & SUMBER PENGETAHUAN
Kelompok I:
Muhammad Ilham Rauf   (NIM 12B12038)
Evi Mazidah                   (NIM 12B12027)
Zainal Arifin                   (NIM 12B12041)                 
Martha Maliety                (NIM 12B12029)           Abdul Mannan           (NIM 12B12044)


 http://arrester.files.wordpress.com/2009/11/logo-unm-cantik.jpg






PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASAR
2012
KATA PENGANTAR
Assalmu’alaikum Wr.Wb.
Untaian Puji syukur hanyalah milik Allah Yang Maha Pengasih lagi  Maha Penyayang karena dengan rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad Saw kepada keluarganya para sahabatnya dan kepada kita semua umatnya.amin
Dalam makalah ini kami ingin memaparkan kajian tentang “Dasar-dasar dan Sumber Pengetahuan”sebagai tugas dari mata kuliah filsafat ilmu dengan Dosen pengampu Bapak DR. Patahuddin, M.Pd.
Tidak ada gading yang tak retak, pemakalah juga menyadari bahwa isi makalah ini jauh dari kesempurnaan, saran dan kritik pemakalah sangat harapkan untuk proses perbaikan dan penyempurnaan dalam menyusun makalah selanjutnya. Dan juga kami berharap semoga makalah ini bisa berguna dan bermanfaat bagi kita semua umumnya dan bagi kami khususnya. Amiin yaa rabbal ‘alamin.



Makassar, Desember  2012





Penyusun,











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………....i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang   ..........................................................................................      1

B. Perumusan Masalah  ....................................................................................      2

C. Tujuan Penulisan Makalah   ..........................................................................    2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu dan Filsafat   .....................................................................      3
B. Pengartian dan Dasar-dasar Pengetahuan   ..................................................      4
C. Sumber Pengetahuan ....................................................................................     6
D. Berpikir Ilmiah untuk memperoleh pengetahuan  ........................................     7

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan   ...............................................................................................       12

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
......Bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana, ”bagaimana caranya agar saya mendapat pengetahuan yang benar?. ”mudah saja”, jawab filsuf itu,” ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu”.
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kapastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui apa yang telah kita ketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas ini.
Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki berbagai kesanggupan seperti kemampuan berfikir, menyadari, menghayati, mengerti dan memahami. Jadi pemikiran kesadaran, penghayatan, pengertian dan pemahaman semuanya merupakan istilah yang berarti bahwa kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelegensi (sifat kecerdasan jiwa.
            Berpikir di maksudkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui dengan kata lain bahwa kebenaranlah yang menjadi tujuan utamanya, dari proses berpikirnya yang mengatakan pengorganisasian dan pembudian pengalaman-pengalamannya secara empiris dan eksperimen di maksudkan dapat mencapai pengetahuan, tetapi apakah pengetahuan yang diperoleh adalah benar dan apa yang dimaksud kebenaran dalam ilmu pengetahuan?
            Kebenaran adalah adanya korespondensi, koherensi dan konsistensi antara subjek dan objek secara pragmatis, jadi ada dua kebenaran yang ingin di capai yaitu mutlak dan relatif. Dikatakan relatif karena kebenaran ini merupakan hasil pemikiran manusia dalam teori pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah selesai terpikirkan, tetapi sesuatu hal yang tidak pernah mutlak sebab ia masih selalu membuka diri untuk pemikiran kembali atau peninjauan ulang.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Ilmu dan Filsafat ?
2. Apa Pengertian Dasar-dasar Pengetahuan ?
3. Bagaimana Sumber Pengetahuan ?
4. Apa sarana Berpikir Ilmiah untuk memperoleh pengetahuan ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Ilmu dan Filsafat
2. Untuk mengetahui pengertian Dasar-dasar Pengeathuan
3. Untuk mendeskripsikan sumber-sumber pengetahuan.
4. Untuk mengetahui sarana berpikir ilmiah untuk memperoleh pengetahuan.















BAB II
PEMBAHASAN

A. Ilmu dan Filsafat
Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak di bangku sekolah sampai pada pendidikan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri; Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar?
Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi sudut pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya, misalnya dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Selain itu membongkar tempat berpijak secara fundamental, inilah karakteristik yang keua dari berpikir filsafat yaitu mendasar.
Apakah yang sebenarnya ditelaah filsafat? Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia, mempersoalkan hal-hal yang pokok; terjawab masalah yang satu, diapun mulai merambah pertanyaan lainnya. Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut dengan salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika) dan apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang ini kemudian berkembang luas hingga saat ini yang melahirkan berbagai cabang kajian filsafat yang kita jumpai seperti filsafat politik, pendidikan dan agama.
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti; Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap indera manusia yang membuahkan pengetahuan? Untuk membedakan janis pengetahuan yang satu dari pengetahuan yang lain, maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (aksiologi)? Dengan mengetahui ketiga pertanyaan itu maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.
B. Pengertian Dasar-dasar Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Mendefinisikan pengetahuan merupakan kajian panjang sehingga terjadi pergulatan sejarah pemikiran filsafati dalam menemukan pengertian pengetahuan. Hal ini wajar karena “keistimewaan” filsafat adalah perselisihan, pergumulan pemikirannya itu berlangsung terus selamanya. Suatu produk pemikiran filsafat selalu ada yang menguatkan, mengkritik, melemahkan bahkan akan ada yang merobohkan pemikiran itu. Kelakpun akan dijumpai yang satu menegaskan sedang yang lain mengingkari. Begitulah seterusnya akan selalu berada dalam bingkai dialektika.
Sedangkan Ilmu merupakan pengetahuan yang terorganisasi dan diperoleh melalui proses keilmuan. Sedangkan proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematsi tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini biasanya atau pada umunya berupa metode ilmiyah. Dari proses metode ilmiah itu melahirkan “science”. Science atau tepatnya Ilmu pengetahuan memilki arti spesifik bila digandengkan dengan ilmu pengetahuan yaitu sebagai kajian keilmuan yang tersistematis sehingga menjadi teori ilmiah-obyektif ( dapat dibuktikan secara empiris ) dan prediktif ( menduga hasil empiris yang bisa diperiksa sehingga bisa jadi hasilnya bersesuaian atau bertentangan dengan realita empiris).

Pengetahuan dalam pandangan Rasionalis bersumber dari “Idea”. Tokoh awalnya adalah Plato (427-347). Menurutnya alam idea itu kekal, tidak berubah-ubah. Manusia semenjak lahir sudah membawa idea bawaan sehingga tinggal mengingatnya kembali untuk menganalisa sesuatu itu.
Istilah yang digunakan Rene Descartes (1596-1650) sebagai tokoh rasionalis dengan nama “innete idea”. Penganut rasionalis tidak percaya dengan inderawi karena inderawi memiliki keterbatasan dan dapat berubah-ubah. Sesuatu yang tidak mengalami perubahan itulah yang dapat dijadikan pedoman sebagai sumber ilmu pengetahuan. Aristatoles dan para penganut Empirisme-Realisme menyangggah yang disampaikan oleh kaum Rasionalis. Mereka berdalih bahwa ide-ide bawaan itu tidak ada. Hukum-hukum dan pemahaman yang universal bukan hasil bawaan tetapi diperoleh melalui proses panjang pengamatan empiric manusia. Aristatoles berkesimpulan bahwa ide-ide dan hukum yang universal itu muncul dirumuskan akal melalui proses pengamatan dan pengalaman inderawi.
Pengetahuan yang tidak bisa diukur dan dibuktikan dengan empiric-realitas-material merupakan pengetahuan yang hayali, tahayul dan bohong (mitos). Aliran empirisme menyatakan bahwa pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman-pengalaman yang konkrit. Sedangkan aliran rasionalis berpendapat bahwa pengetahuan manusia didapatkan melalui penalaran rasional. Kedua pendekatan ini merupakan cikal bakal lahirnya positivisme modern dalam kajian keilmuan.

2. Dasar-dasar Pengetahuan
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapat melalui kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan. Penalaran mempunyai ciri, yaitu: merupakan suatu proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu atau menurut logika tertentu dan sifat analitik dari proses berpikirnya, menyandarkan diri pada suatu analisis dan kerangka berpikir yang digunakan untuk analisis tersebut aalah logika penalaran yang bersangkutan, artinya kegiatan berpikir analisis adalah berdasarkan langkah-langka tertentu. Tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan pada penalaran seperti perasaan dan intuisi.
Ditinjau dari hakikat usahanya, maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita dapat bedakan jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang didapatkan melalui usaha aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik secara nalar maupun lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intusi. Kedua, pengetahuan yang didapat tidak dari kegiatan aktif menusia melainkan ditawarkan atau diberikan seperti ajaran agama. Untuk melakukan kagiatan analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari sumber kebenaran yaitu dari rasio (paham rasionalisme) dan fakta (paham empirisme). Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan penalaran deduktif (terkait dengan rasionalisme) dan induktif (terkait dengan empirisme).
Penalaran merupakan proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara tertentu. Penarikan kesimpulan dianggap benar jika penarikan kseimpulan dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika.

C. Sumber Pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. pertama, mendasarkan diri pada rasional dan mendasarkan diri pada fakta. Disamping itu adanya intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu, seperti ”orang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba menemukan jawabannya.
Salah satu pembahasan dalam epistimoogi adalah sumber-sumber ilmu pengetahuan. Sumber pengetahuan pada masyarakat relegius berawal dari sesuatu yang sakral dan transenden. Tuhan merupakan sumber dan sebab pertama “causa prima” dari segala sesuatu. Manusia tidak akan menemukan kebenaran yang hakiki selama meninggalkan yang essensi ini.
Sumber ilmu pengetahuan untuk mengatahui hakekat segala sesuatu bagi masyarakat relegius tidak cukup dengan menggunakan panca indera dan akal saja tetapi ada dua unsur lain yaitu ” wahyu ( revelation) dan ilham (intuisi)”. Wahyu itu adalah salah satu dari wujud “Ketuhanan” dan ilham atau intuisi adalah termanifestaasikan dalam diri para nabi dan rasul. Sehingga para agamawan mengatakan bahwa kitab suci (wahyu) merupakan sumber ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh manusia pilihan Tuhan kepada umat manusia

D. Sarana Berpikir Ilmiah Untuk memperoleh Pengetahuan
Adapun sarana berpikir ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia, kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan mengganggapnya sebagai suatu hal yang biasa seperti bernafas dan berjalan. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia tanpa bahasa maka tak ada komunikasi, tanpa komunikasi apakah manusia layak disebut dengan mahluk sosial?
Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa seperti berpikir sistemastis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan dengan kata lain tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sitematis dan teratur.


a. Pengertian Bahasa dan Fungsinya
Banyak Ahli Bahasa yang telah memberi uraian tentang pengertian bahasa, sudah barang tentu setiap ahli berbeda-beda cara menyampaikannnya. Bloch and Trager menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok social sebagai alat untuk berkomunikasi, sementara Joseph Broam mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitirer yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok social sebagai alat bergaul satu sama lain.
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, Pengertian Bahasa ada tiga yaitu:
a) Sistem lambang bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran
b) Perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa
c) Percakapan (perkataan yang baik, sopan santun, tingkah laku yang baik).
Jadi bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi yang mempunyai makna tertentu dalam suatu kelompok social tertentu.
Para pakar juga berselisih paham dalam hal fungsi bahasa. Aliran filsafat bahasa dan psikolingustik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan emosi sedangkan aliran sosiolingustik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat.
Walupun tampak perbedaan, pendapat ini saling melengkapi, yang secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah:
1.      Koordinator kegiatan masyarakat
2.      Penetapan pikiran dan pengungkapan
3.      Penyampaian pikiran dan perasaan
4.    Penyenangan jiwa
5.    Pengurangan kegoncangan jiwa
6.    Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah

Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah, dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan dicapai akan terwujud. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif, dengan kata lain kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa, menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar.
Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungisnya untuk komunikasi disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah, komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan.

2. Statistika
Disadari atau tidak, statistika telah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan-pertanyaan seperti; Tiap bulan habis ± Rp. 50.000,- untuk keperluan rumah tangga, ada 60% penduduk yang memerlukan perumahan permanen, 10% anak-anak SD mengalami putus sekolah tiap tahun dan sebagainya. Dunia penelitian atau riset, dimanapun dilakukan bukan saja telah mendapat manfaat yang baik dari statistika tetapi sering harus menggunakannya, untuk mengetahui apakah cara yang baru ditemukan lebih baik dari pada cara yang lama, melalui riset yang dilakukan di laboratorium atau penelitian yang dilakukan di lapangan.
Dalam kamus ilmiah populer, kata statistika berarti table, grafik, daftar informasi, angka-angka. Sedangkan statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis-analisis dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.
Banyak persoalan Apakah itu hasil penelitian riset atapun pengamatan, baik yang dilakukan khusus ataupun berbentuk laporan dinyatakan atau dicatat dalam bentuk bilangan atau angka-angka kumpulan angka-angka itu sering disusun diatur disajikan dalam bentuk table atau daftar sering pula disertai dengan gambar-gambar yang biasa disebut diagram atau grafik supaya lebih dapat menjelaskan lagi tentang persoalan yang sedang dipelajari.
Jadi ringkasnya bisa kita katakan bahwa statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan data, pengelolaan dan penarikan kesimpulannya berdasarkan kumpulan data dan analisa yang dilakukan.
Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah, sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karasteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
 
3. Logika
Logika adalah sarana berpikir sistematis, valit dan dapat dipertanggung jawabkan, karena itu berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar dari pada satu.
Kata Logika dapat diartikan sebagai penalaran karena penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara tertentu.
Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dan dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara benar.
Terdapat dua cara penarikan kesimpulan yakni; Logika Induktif dan Logika Deduktif logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).
Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien tepat dan teratur mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan makalah diatas, penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi sudut pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya, misalnya Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Selain itu membongkar tempat berpijak secara fundamental, inilah karakteristik yang keua dari berpikir filsafat yaitu mendasar.
2.      Pengetahuan dalam bahasa Inggris barasal dari kata “Knowledge” yang berarti pengetahuan. Pengetahuan manusia yang maju mengenai hal-hal yang empiric disebut ilmu ( science ).
3.      Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
4.      Sumber ilmu pengetahuan untuk mengatahui hakekat segala sesuatu bagi masyarakat relegius tidak cukup dengan menggunakan panca indera dan akal saja tetapi ada dua unsur lain yaitu ” wahyu ( revelation) dan ilham (intuisi) Sarana Berpikir Ilmiah Untuk memperoleh Pengetahuan.
5.      Sarana-sarana yang dipakai untuk berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika, statistika dan logika
6.      Proses berfikir ilmiah adalah merupakan sekumpulan Langkah-langkah berpikir yang bersifat objektif, rasional, sistematis dan generalisasi




DAFTAR PUSTAKA

1.  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Cet. I, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2004Husen Al-Habsy, Kamus Al-Kautsar Lengkap, Bangil : Yayasan Pesantren Islam (YAPPI), 1987
2. Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu (dari Hakikat menuju Nilai), Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006
3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia…Op.
7. M. Amin Abdullah, Studi Agama ; Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta : Pustaka Palajar, 1999

TANTANGAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN




TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN


TUGAS KULIAH


                     MATA KULIAH   :  FILSAFAT ILMU
                     DOSEN                    : DR. PATAHUDDIN, M.Pd
 

                     KELOMPOK VI :  1. NUR  AISAH (12B12032)
                                                     2. RAHMA ILMIATI (12B12050)
                                                     3. ABDUL RAHMAN (12B12025)
                                                     4. ALIMUDDIN (12B12052)
                                        
 
PRODI PEP KEPENGAWASAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012
TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU PENGETAHUAN
A.      Tantangan–Tantangan Yang Dihadapi Oleh Masyarakat Masa Depan
1.  Pendidikan Global
Pendidikan Perspektif Global atau disebut juga pendidikan global artinya pendidikan yang membekali wawasan global untuk membekali siswa memasuki era globalisasi sehingga siswa mampu bertindak lokal dengan dilandasi wawasan global. Pendidikan global dengan penerapan metode pembelajaran  global saat ini diadopsi oleh negara-negara maju atau negara-negara yang peringkat Human Development Index (HDI)-nya masih di atas Indonesia, namun penerapannya belum terjadi di Indonesia. Isu global pendidikan juga terkait dengan wacana integrasi ilmu pengetahuan. Disiplin ilmu agama, IPA, matematika, IPS, sastra dan disiplin ilmu lainnya tidak akan lagi berdiri sendiri, terpisah secara sporadis, namun akan menjadi suatu kesatuan ilmu yang melahirkan produk ilmu pengetahuan yang merupakan hasil integrasi dari berbagai disiplin ilmu.
2.      Perubahan Global
          Pada tahun tahun 1989 The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menerbitkan hasil simposium yang diadakan di Paris dalam bentuk buku yang diberi judul One World or Several. Dalam buku tersebut menyebutkan tujuh masalah besar yang dihadapi manusia masa depan. Ketujuh masalah itu ialah (1) reactivasi dunia secara menyeluruh, (2) globalisasi versus regionalisasi, (3) pengembangan sumber daya menusia dan pengelolaan pemerintah, (4) development contract, (5) perlu didirikan regiun energi internasional menghadapi perubahan lingkungan yang semakin destruktif, (6) migrasi internasional, (7) memikirkan kembali nasib buruh-buruh negara agraris (Amin Rais dalam Tuhuleley,1993). Sedangkan negara-negara miskin dihadapkan dengan 3 jenis “buldoser” yang dapat melindas habis negara-negara agraris, yakni (1) revolusi bioteknologi, (2) berbagai imperative ekonomi yang merugikan petani, (3) kerusakan lingkungan yang semakin parah.
 
3.   Kesenjangan Kemajuan IPTEK, Prestasi Pendidikan, dan HDI
Khususnya di Indonesia, menurut anwar et al (1990) tantangan yang dihadapi untuk penerapan dan pengembangan IPTEK pada PJPT II adalah (1) jumlah terbesar penduduk usia 10 tahun ke atas dan angkatan kerja yang tidak tamat SD sebesar 44,9%dari jumlah angkatan kerja sebanyak 74,6 juta, dan lulusan perguruan tinggi 1,61%, itupun lulusan eksakta ±28,9% dan sisanya lulusan ilmu sosial., (2) bagian terbesar unit usaha berskala kecil dan non formal, (3) peningkatan pengangguran terbuka angkatan kerja lulusan SLTP dan yang lebih tinggi, (4) pendidikan menengah dan tinggi relatif rendah , (5) kurangnya tenaga ristek, (6) rendahnya kesehatan relatif terhadap negara ASEAN, (7) industri manufaktur mengarah industri berat, (8) urbanisasi meningkat, (9) Pemasukan dana luar negara berkurang teknologi meluas dan mendalam (Anwar et al, 1990 dalam Iskandar, 1991).
Ketertinggalan sekolah tidak hanya terkait dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah namun juga terkait dengan ketertinggalan akses infromasi seputar perkembangan saintek (sains dan teknologi). Ketertinggalan akses ini secara fundamental disebabkan oleh dua hal, pertama penguasaan operasional guru terhadap perangkat teknologi informasi, kedua karena belum semua sekolah mampu memenuhi ketersediaan perangkat teknologi informasi yang mampu memberikan akses informasi global yang memadai, semisal jaringan internet. Hal ini pun disebabkan oleh faktor fundamental lainnya yaitu kualitas SDM dan ketersediaan finansial.
Ketertinggalan kita terjadi pada aspek-aspek yang fundamental. Skill membaca tidak diragukan lagi sebagai skill yang sangat penting, dari data terlihat  bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan ‘memaksa diri’ untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Begitupun  kemampuan problem solving, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset, karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuan-penemuan baru yang datang dari dunia pendidikan.

4. Perubahan tata kehidupan

           Akselerasi perubahan masyarakat yang begitu cepat di masa depan, menimbulkan tata kehidupan manusia. Alvin Toffler (1970) menyebutkan tata kehidupan manusia masa depan itu mencakup (1) masyarakat yang serba membuang, (2) kaum nomad baru, (3) insan modular (Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah ,1987).

5. Kependudukan Dan Ketenagakerjaaan
         Pertambahan penduduk, merupakan tantangan bagi masyarakat masa depan. Di negara-negara industri maju, pertambahan penduduk 1% bahkan beberpa negara mendekati 0%, sehingga tahun 2025 jumlah penduduk di negara ini sekitar 1,4 milyar. Sedang di negara-negara berkembang pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 6,8 milyar. (Brundland,1987 dalam Sumantri, 1988). Sementara itu di Indonesia pada tahun 2020 jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa dan tahun 2050 menjapai 350 juta jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini sekitar 1,8% pertahun. Akibat pertumbuhan penduduk ini dapat memunculkan masalah-masalah sosial, misalnya pengangguran.
                  Sedangkan khusus pada dunia pendidikan di Indonesia saat ini dan mendatang, terdapat beberapa tantangan yaitu:
1.      Perubahan Lingkungan hidup
            Masyarakat masa depan akan dihadapkan pada masalah lingkungan hidup. Beberapa perubahan lingkungan di masa depan meliputi (1) bertambahnya jumlah penduduk di bumi, (2) krisis air bersih untuk keperluan penduduk dan industri, (3) makin  luasnya tanah krisis, (4) berkurangnya luas hutan, (5) musnahnya berbagai plasma nutfah di darat dan di air karena ekosistem, (6) rusaknya berbagi ekosistem di laut akibat pengurasan hasil laut pencemaran di sungai. (7) makin luasnya padang pasir, (8) meningkatnya suhu bumi akibatefek rumah kaca. (9) makin meningkatnya hujan asam, (10) jurang ekonomi antara negara miskin dan negara maju makin lebar. (Kastama,1991)

2.      Degradasi Moral
          Tekanan-tekanan sosial akibat berbagai ketimpangan sosial dapat menimbulkan  tingkah laku menyimpang dalam masyarakat.
            Di Jepang kemajuan ekonomi akibat industrialisasi , harus di bayar mahal berupa guncangan sosial budaya. Bunuh diri di kalangan remaja menempati angka tertinggi di dunia. (Saefuddin, 1993)
 Demikian pula di Indonesia akibat globalisasi informasi, tata nilai dasar diterjang begitu saja oleh budaya asing, sehingga melahirkan perilaku baru dikalangan generasi muda.
3.      Sains dan Teknologi
            Meskipun abad ini merupakan abad sains dan teknologi, akan tetapi negara-negara berkembang keadaanya jauh di belakang negara-negara maju.                       Dalam hal penguasaan sains dan teknologi, negara-negara berkembang masih mendapatkan masalah. Abdus Salam pemenang hadiah nobel dari fisika tahun 1978 yang berasal dari Pakistan mengemukakan ada 4 faktor yang menjerat negara berkembang sehingga mereka tidak dewasa dalam bidang sains untuk teknologi mutakhir, adalah : (1) banyak negara berkembang tidak mempunyai komitmen terhadap sains baik terapan apalagi yang murni, (2) tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan kemandirian, (3) tidak mendirikan kerangka institusional  dan legal yang cukup mendukung manajemen kegiatan bidang sains (Baiquni,1990)
           Untuk dapat mengembangkan teknologi modern, diperlukan persiapan pendukungnya yakni penguasaan sains dan Bio-molekuler, biokimia dan mikrobiologi untuk mendukung bioteknolgi dan rekayasa genetik. Penguasaan dalam bidang  fisika zat mampat , fisika semi konduktor dan superkonduktor, fotonika, yang menjadi dasar pengembangan teknologi material baru dan mikro elektronika   ( Baiquni, 1990)
4.      Pendidikan Nasional
             Tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak yang terkait adalah memgendalikan terjadinya putus sekolah. Angka putus sekolah di SD secara komulatif mencapai 20%, tingkat mengulang kelas 9,5% setiap tahun. Ditingkat SLTP angka putus sekolah ditingkat SLTA mencapai 3,5%dan di perguruan tinggi mencapai 9,1%
            Untuk memcapai masyarakat industri maju yang bertumpu pada penguasaan teknologi tinggi Indonesia masih menghadapi tantangan Sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia yang diprioritaskan untuk mendukung pelaksanaan teknologi adalah yang menguasai Basic Science. (Koswara,1991).
B.     Antisipasi – Antisipasi Yang Diperlukan Bagi Masyarakat Masa Depan
1.      Pendidikan Global
Pendidikan Global dirasa perlu disebabkan kemajuan komunikasi & transportasi yang dirasakan dunia semakin sempit, batas negara menjadi buram, proses universalisasi melanda berbagai aspek kehidupan. Pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan global dalam aspek ekonomi, seni budaya, SDM, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain ke dalam kurikulum sekolah yang akhirnya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk persaingan global.
Tujuan Pendidikan Global adalah :
a.  Mengembangkan pengertian keberadaan mereka membentuk masyarakat.
b. Memberi pengertian mereka yang merupakan anggota masyarakat manusia.
c. Menyadarkan mereka adalah penghuni planet bumi, dan kehidupannya tergantung pada planet bumi tersebut.
d. Mereka adalah partisipan atau pelaku aktif dalam masyarakat global.
e. Mendidik siswa agar mampu hidup secara bijaksana dan bertanggung jawab, sebagai individu, umat manusia, penghuni planet bumi, dan sebagai anggota masyarakat global.
Pendidikan Global menekankan pada:
a. Kesadaran terhadap perspektif global.
b. Memahami sistem-sistem global.
c. Sejarah globalisasi.
d. Saling pengertian terhadap budaya bangsa lain.
Contoh Pendidikan Global:
Para siswa di Bangladesh bertukar wawancara dalam video dengan siswa di Georgia. Siswa SMA di Illinois belajar bahasa Jepang, Latin, Perancis, dan Jerman dengan menggunakan diskusi online bersama para siswa dari negara-negara lain.
Siswa-siswi dari seluruh dunia mengadakan penelitian mengenai spesies binatang yang hampir punah dari daerah masing-masing, dan berbagi informasi tersebut dengan menerbitkannya di situs web bersama. Terhubung secara global melalui kemajuan teknologi Internet.
2.      Pendidik yang berkarakter kuat dan cerdas
Pendidik yang kuat adalah pendidik yang berkarakter yaitu di samping fisik yang kuat, pendidik harus memiliki kepribadian yang utuh, matang, dewasa, berwibawa, berbudi pekerti luhur, bermoral baik, penuh tanggung jawab dan memiliki jiwa keteladanan, dan memiliki keteguhan atau ketetapan hati untuk berjuang membangun dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia seutuhnya melalui tugas-tugas yang diembannya dan tidak mudah terpengaruh pada upaya-upaya atau kondisi yang dapat mengakibatkan mereka ke luar (out of track) dari “jalan dan perjuangan yang benar”. Sedangkan pendidik yang cerdas berarti memiliki kemampuan untuk melakukan terobosan dan pemikiran yang mampu menyelesaikan masalah dan melakukan pengembangan-pengembangan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan membangun manusia seutuhnya baik dari segi intelektual maupun moral.
3.      Peran guru dalam pembelajaran
Guru memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik siswa dalam proses pembelajaran terutama sebagai agent of change melalui proses pembelajaran (Davies dan Ellison, 1992). Peran guru tidak akan tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai teachers’ companion (sahabat – mitra guru).
 
4.      Upaya peningkatan mutu guru
Dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, pendidik merupakan pemegang peran yang amat sentral. Guru adalah jantungnya pendidikan. Tanpa denyut dan peran aktif guru, kebijakan pembaruan pendidikan secanggih apa pun tetap akan sia-sia. Sebagus apa pun dan semodern apa pun sebuah kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru yang berkualitas, tidak akan membuahkan hasil optimal. Artinya, pendidikan yang baik dan unggul tetap akan tergantung pada kondisi mutu guru. Beberapa upaya untuk meningkatkan mutu guru yaitu sertifikasi guru, peningkatan mutu dan profesionalisme guru, adanya asosiasi profesi, dan upaya-upaya lain seperti peberian beasiswa, pemberian penghargaan, dan peningkatan kesejahteraan.
5.      Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
Menghadapi masyarakat masa depan yang bercirikan perubahan dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas manusia yang dibutuhkan memiliki 3 ciri utama, ialah (1) manusia yang sadar IPTEK, (2) Kreatif, (3) solidaritas-etis (Oetomo,1990).
Pertama manusia yang sadar IPTEK adalah well informed, tahu banyak pengetahuan. Mampu mencerna informasi, dan mengolah dan menganalisis informasi untuk diri dan masyarakatnya. Mampu mendayagunakan IPTEK, bahkan daapt memukan inovasi untuk menciptakan perubahan dan mengendalikannya.
Kedua, manusia kreatif adalah manusia yang tidak terbawa oleh arus perubahan. Manusia kreatif mampu menciptakan perubahan, memiliki kemampuan yang kompetitif. Manusia kreatif, manusia yang inteligent, memiliki minat yang tinggi, imaginer, fleksibel, dan sensitif. Memiliki daya ingat yang tinggi dan dapat berpikir secara evaluatif . Dilihat dari sisi minat dan motivasinya, manusia kreatif mempunyai ciri selalu ingin tahu, gemar bermain ide, suka menghadapi tantangan..
Ketiga, manusia yang memiliki solidaritas-etis. Kompetitif merupakan ciri globalisasi, oleh karena itu manusia masa depan perlu memiliki solidaritas sosial. Memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Keunggulan kompetitif harus dilandasi oleh dan bermuara pada rasa tanggungjawab sosial.
Tantangan terberat dalam globalisasi tidak lain adalah mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang merupakan identitas sebagai bangsa. Di dalam diri manusia dituntut untuk berwawasan internasional. Namun di pihak lain, dituntut agar tetap berpijak pada jati diri sebagai bangsa yang mandiri. Oleh karena itu, manusia akan berada pada posisi tarik-menarik dua kebudayaan yakni kebudayaan internasional versus kebudayaan nasional.
Menghadapi derasnya kebudayaan asing (Barat) sering identik dengan nilai materialistik. Fromn (1956) melihat kehancuran tata kehidupan manusia terlalu menekankan aspek materi dan melupakan ajaran agama adalah pangkal kehancuran umat manusia. (Jacob, dalam Effendi,1992).
Hal lain yang merupakan bentuk antisipatif adalah memadukan agama dan ilmu dalam beberapa hal yang berbeda.  Agama yang lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru. Tidak perlu terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati, sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia. Agama mendorong umatnya untuk menuntut ilmu.  Hampir semua kitab suci menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mungkin.
            Disini ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lebih abadi kalo visi ini yang diyakini oleh para ilmuwan dan agamawan maka harapan kehidupan ke depan akan lebih cerah dan sentosa tentu saja pemikiran-pemikiran seperti ini perlu dukungan dari berbagai pihak untuk terwujudnya masa depan yang lebih cerah.
C. Masa Depan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Selama abad kedua puluh, ilmu pengetahuan telah meloncat kedepan. Faktor yang berpengaruh atas keadaan ini karena menurut dugaan 90 % ahli ilmu pengetahuan dan penemuan – penemuan dalam sejarah umat manusia hidup pada zaman ini. Riset dan pembaharuan dilembagakan, demikian pula modal orang yang bekerja di bidang IPTEK, merupakan faktor pendukung lonjakan perkembangan IPTEK (Faure, 1972).
Hal yang menarik disamping kuantitas penemuan dan intensitasnya adalah jarak antara penemuan prinsip – prinsip ilmiah dengan aplikasi dan penyebaraannya semakin pendek. Sebagai contoh pada tahun 1727 ditemukan prinsip – prinsip dasar pemotretan. Kurang lebih 112 tahun jarak antara penemuan prinsip ilmiah dengan aplikasinya. Sementara hatere solar prinsip ilmiahnya ditemukan tahun 1953, aplikasinya tahun 1955, sehingga hanya membutuhkan waktu 2 tahun.
Para peneliti  masa depan telah mencoba menginventarisasi perkembangan IPTEK masa depan. Menurutnya IPTEK masa depan, (1) perkembangan energi fisika tinggi, inovasi dan aplikasi lanjut cahaya laser, (2) pemurnian terus – menerus pada bidang sibernetika – bidang proses kontrol sistem – sistem mekanik, biologi dan elektronik, (3) perubahan penting dalam kualitas dan penggunaan media massa, (4) sukses besar dalam manipulasi ringan dan restorasi lingkungan, (5) peningkaatan pemakaian komputer, (6) memperkenalkan super – konduktor, dan (7) kerja sama internasional dalam perdagangan dan tukar menukar teknologi (Shane, 1973 dalam Kusuma, 1982).
Berbagai bidang IPTEK akan maju terus. Perlembagaan elektronika akan berkembang kearah psikoelektronika dan bio elektronik. Robot – robot akan menggantikan tenaga manusia, sehingga menju kearah pabrik tanpa buruh. Bioteknologi, geno teknologi dan ekoteknologi akan memegang peranan penting dalam masyarakat masa depan.
Dalam bidang transformasi, selama berabad – abad manusia mengadakan pejalanan dengan jalan kaki. Sekitar 6000 tahun sebelum Masehi angkutan yang paling cepat adalah unta dengan kecepatan 8 mil perjam, tahun 1600 SM dengan kereta kuda meningkat 20 mil perjam, lokomotif ditemukan tahun 1925 baru mencapai kecepatan 13 mil perjam. Sementara tahun 1938 manusia mengudara dengan kecepatan 400 mil perjam dan tahun 1960 dengan roket, kecepatan mencapai 4800 mil perjam. Dan kini astronot mengedari bumi dengan kecepatan 18.000 mil perjam atau 40. 000 km perjam (Faure, 1972 ; Toffler,, 1970).
Revolusi teknologi komunikasi membuat jarak bukan merupakan hambatan bagi manusia dalam berkomunikasi. Sejak digunakannnya burung merpati sebagai alat komunikasi dapat menerobos hambatan, jarak, lebih – lebih setelah ditemukan telpon tahun 1820. jarak sama sekali bukan masalah lagi.
Akhir – akhir ini produk telkom yang mutakhir mulai dikenalkan. Telkom high-tech yang diberi nama VSAT (very small aperture terminal) mampu mengirim dan menerima data, faks dan suara dalam sekejab beserta gambarnya. Sistem VSAT ini mampu mengatasi hambatan komunikasi akibat lalu lintas kkomunikasi yang padat (Jawa Post . 3 Mei 1995)
Sejalan dengan perkembangan komunikasi adalah perkembanan teknologi informasi. Radio ditemukan tahun 1867. tiga puluh lima tahun kemudian yakni tahun 1902 mulai dipasarkan. Sejak itu, penyampaian informasi dapat menjangkau publik yang berlipat ganda, penemuan transistor tahun 1948, kemudian diproduksi tahun 1951 mampu mengefisiensikan produksi radio, akibatnya radio diproduksi dalam jumlah yang besar dengan harga dalam jangkauan masyarakat umum.
Teknologi elektronika yang kini penggunaannya merambah dalam berbagai bidang adalah teknologi komputer. Ketelitian dan kecermatan melebihi manusia, ia dapat dipekerjakan di bidang kedokteran, dalam bidang rancang bangun dan rekayasa, bahkan dapat menggantikan guru dalam membelajarkan anak.

D. Menjawab Tantangan dan Menatap Masa Depan Ilmu
Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita raja midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginan dikabulkan dia tidak semakin senang tetapi justru menjadi sebaliknya.
John Naissbitt mengatakan bahwa, era informasi menimbulkan gejala mabuk teknologi, yang ditandai dengan beberapa Indikator, yaitu; 1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat; 2) masyarakat takut dan memuja teknologi; 3) masyarakat mengaburkan antara yang nyata dan yang semu; 4) masyarakat menerima kekerasan sebuah hal yang wajar; 5) masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan; 6) masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.
Naisbitt ingin mengingatkan bahwa, ketika manusia mulai memuja dan menjadikan teknologi sebuah patron tunggal dalam menjalani kehidupan, maka yang sebenarnya terjadi adalah ilmu itu telah kehilangan ruh fundamentalnya, karena Ilmu telah mengeliminir peran manusia dan menjadikan manusia sebagai budaknya.
Dengan demikian, Ilmu memerlukan sebuah instrument agar mampu menempatkan ilmu tetap pada tempatnya, dan instrument itu adalah filsafat. filsafat yang kemudian mengembalikan ruh dan tujuan luhur Ilmu, agar Ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan umat manusia. Di samping itu, salah satu tujuan filsafat ilmu adalah mempertegas bahwa Ilmu dan perkembangannya merupakan sebuah instrument, bukan Tujuan. 
            Kemajuan Ilmu seiring perjalanannya, membuat manusia ingin mendapatkan segala apa yang diinginkan. Sehingga, kemajuan ilmu menjadi sebuah komoditas untuk dapat meraih segala keinginanya secara instant.


Beberapa pandangan terhadap perspektif ilmu, yaitu:
1.      Ilmu dalam Perspektif Agama dan Masa Depan Manusia
Agama dan ilmu dalam beberapa hal menunjukan perbedaanya, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) yang cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari hal baru dan tidak perlu terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi batin, karena ada janji kehidupan setelah mati. Sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.
Karena bagi masyarakat beragama, walaupun Ilmu memiliki perbedaan yang konfrehensif, baik dalam fase rohani dan fase kebutuhan jasmani, ilmu adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan, karena manusia hanya menemukanya melalui pendekatan-pendekatan dan disiplin ilmu secara tersistematis, dengan kemudian merekayasanya, dan menjadikanya sebuah instrument penting dalam kehidupan. Karena manusia berbeda dengan ciptaan Tuhan lainya, manusia diberikan daya pikir berbeda dengan makhluk lainya. Daya pikir inilah yang kemudian menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi.
Dalam waktu yang sama, antara manusia, daya pikir dan temuan-temuanya, semua itu harus bertanggung jawab dalam balut transcendental, tanggung jawab pada Penciptanya. Karena, daya pikir tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai ciptaan-Nya. Sehingga, konsekuensi logisnya, manusia tidak hanya bertanggung jawab pada manusia saja, melainkan sebab dan akibat yang ditimbulkan oleh daya pikirnya pun turut serta bertanggungjawab di hadapan Tuhan sebagai Penciptanya.
Akan tetapi, walaupun Agama mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan hampir semua kitab suci menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mungkin, disi lain perlu juga diingat bahwa, ikatan agama yang terlalu kaku dan terstruktur, kadang kala mempersempit laju perkembangan Ilmu. Karena itu, perlu kejelian dan kecerdasan dalam memperhatikan sisi kebebasan dalam ilmu, dan system nilai dalam agama, agar tidak terjadi benturan dan bertolak belakang antara ilmu dan agama.
Penataan laju perkembangan ilmu berdasarkan system nilai agama, kemudian mampu menjadikan Ilmu tetap berjalan, dan nilai agama yang berlaku menjadi control sosial dalam menata laju ilmu dengan memperhatikan Lingkungan sekitar. Dengan demikian, dapatlah sebuah penjagaan terhadap alam, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos yang tidak lepas daripada kehidupan kita.
2. Pendidikan Masa Depan
            Toffler menyebutkan masyarakat masa depan adalah masyarakat super industrial. Untuk menciptakan hal ini perlu ditentukan alternatif yang bermuatan asumsi tentang jenis pekerjaan, profesi yang diperlukan antara 20-50 tahun yang akan datang. Dari sini akan  dirumuskan keterampilan, kognitif, dan afektif yang dibutuhkan untuk menghadapi akselerasi perubahan. (Toffler, 1970, dalam Koesdiyatinah, 1987)
            Untuk mengantisipasi masa depan, Tilaar menyebutkan ada sepuluh kecenderungan pengembangan Sistem Pendidikan Nasional, yaitu :
 (1) pemerataan pendidikan, (2) Kurikulum yang relevan dengan pembangunan nasional, (3) proses belajar mandiri, (4) tenaga pendidikan yang profesional, (5) pendidikan pelatihan yang tetpadu, (6) pendidikan tinggi sebagai partner in progress. (7) pendidikan berkelanjutan, (8) pembiayaan yang memadai, (9) partisipasi masyarakat, (10) manajemen pendidikan yang efektif (Tilaar,1993)
            Naisbit (1990) menekankan pentingnya pendidikan nilai bagi pendidikan masa depan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan masa depan yang ditandai oleh berkembangnya bioteknologi. Kecenderungan di bidang bioteknologi ditandai oleh keberhasilan ilmuwan dalam memecahkan masalah DNA (Deoxyribonucleaid Acid) . Dibidang pertanian dikembangkan varietas Unggul, demikian pula dibidang peternakan. Bagaimana menemukan varietas unggul untuk kehidupan manusia?
            Masa depan merupakan masa yang kompleks bahkan kaum futurolog sudah tidak sanggup lagi meramalkan hari depan. (Soedjatmoko, dalam Utomo, 1990). Kalau demikian halnya, pendidikan masa depan harus mampu mendidik individu untuk dapat menghadapi kekompleks-an masa depan. Tujuan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia  yang dapat mengikuti keadaan masa depan.
            Tujuan pendidikan bukan melahirkan individu yang terpragmentasi dalam bidang-bidang spesialisasi. Melainkan dapat mewujudkan individu yang utuh. Sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional  yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional  mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab masyarakat dan kebangsaan.
            Penerapan prinsip pendidikan seumur hidup akan berimplikasi pada perubahan kurikulum. Menurut Delker, sekolah perlu menawarkan pendidikan inti yang  efektif yang diperlukan untuk belajar seumur hidup. Skager dan dave (1977) menyebutkan kriteria kurikulum sekolah untuk mendukung perkembangan seumur hidup sekolah. Yaitu : (1) kurikulum sekolah harus menganggap bahwa belajar adalah suatu proses yang terus-menerus, (2) kurikulum sekolah harus dipandang dalam konteks, belajar di rumah, masyarakat dan tempat belajar, (3) kurikulum sekolah mengakui interelasi beberapa subjek studi.(4) Kurikulum sekolah harus mengakui sekolah sebagai suatu agen dalam menajikan pendidikan dasar, (5) kurikulum sekolah perlu menekankan otodidak, (6) kurikulum sekolah mengingat kebutuhan individu (Skager dan dave,1977 dalam Cropley).Sementara belajar untuk menghadapi perubahan menurut Biggs (1973) adalah (1) proses untuk memiliki dan mengalokasikan informasi, (2) proses untuk memiliki keterampilan tingkat tinggi menggeneralisasi, (3) proses memiliki strategi umum untuk memecahkan problema, (4) proses menetapkan tujuan belajarnya sendiri, (5) proses mangevaluasi hasil belajarnya sendiri, (6) motivasi yang terat dan (7) proses memiliki konsep yang tepat. (Biggs, 1977 dalam Cropley)

3. Menguasai Teknologi
            Era globalisasi diwarnai oleh persaingan. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai keunggulan kompetitif . Wardiman (1993) menyebutkan untuk mengatasi persaingan, dunia industri harus , (1) menguasai teknologi produksi, untuk mendapatkan kualitas produk yang tinggi, (2) menguasai teknologi produk agar dapat bersaing, (3) menguasai teknologi menajemen untuk mendapatkan harga yang layak,(4) mempunyai tenaga kerja yang terampil dalam proses produksi atau teknologi produk(wardiman,1993)
            Somitro(1981)menyebutkan, mengingat konstelasi masyarakat kita ,dan melihat perkembangan masa depan, ada tiga teknologi yang harus dikembangkan,(1) teknologi maju, (2) teknologi adaptif dan (3) teknologi protektif.Teknologi maju masa depan adalah teknologi produksi exstratif dibidang metalurgy, teknologi imeral dan energi(nuklir).teknologi adaptif, teknologi yang bersumber dari penelitian negara maju yang diolah sesuai dengan kondisi masyarakat kita.teknologi protektif, teknologi perlindungan alam dan lingkungan(sumitro, 1981).
            Selain peningkatan jumlah insinyur dalam pakar pakar dibidang ilmu murni, sujatmoko(1993) manuliskan universitas perlu menggembangkan disiplin ilmiah yang melandasi teknologi, seperti Solid State Physics dan matematika untuk mikro elektronika dan biologi mikro. (Soedjatmoko,1993). Lebih lanjut ia menyebutkan, teknologi yang paling besar dampaknya atas perkembangan masyarakat adalah  bidang bio teknologi, mikro elektronika, informatika dan teknologi bahan (technology  bahan)
            Untuk mengimbangi kejutan masa depan, Toffler menawarkan strategi pemikatnya. Disebutkannya untuk mempertahankan keseimbangan selama terjadinya revolusi super industrial adalah dengan menandingi penemuan baru (Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah,1987).           
4. Mengubah kecenderungan
            Menperhatikan dampak negatif teknologi, untuk mengantisipasi masa depan. Yacob (1993) menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi masa depan , perlu menguasai skenario masa depan yakni dengan mengubah kecenderungan masa depan. Untuk mengubah kecenderungan masa depan yang perlu dilakukan adalah (1) pembatasan pertumbuhan industri negara maju, atau menciptakan pertumbuhan batas dengan teknologi teratas, (2) penemuan baru dalam teknologi, bahkan makanan, material,  peningkatan ekoteknologi untuk mengendalikan pemanasan global dan pencemaran lingkungan, (3) rehumanisasi IPTEK, (4) desentralisasi teknologi dan dualisasi penghidupan, (5) penggantian paradigma dengan mengembangkan nilai  to be dan bukan hanya to have, (6) revitalisasi dan modernisasi pemahaman agama (Yacob,1993 dalam Tuhuleley, 1993)